Pelajaran Komunikasi Krisis dari Bencana Batang Toru

 

Saat publik masih memendam amarah terhadap kerusakan hutan di Batang Toru, siapa peduli pada klarifikasi perusahaan tambang yang membela diri?

Sebuah postingan muncul di beranda facebook saya: pernyataan klarifikasi dari PT. AR, salah satu perusahaan eksplorasi tambang emas di kawasan Batang Toru, Sumatera Utara, terkait bencana banjir bandang dahsyat di kawasan Tapanuli Tengah, terutama di Batang Toru, kawasan terdampak paling parah, di penghujung November 2025.  Ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan  harta benda. Ratusan jiwa melayang. Desa-desa hilang, rata dengan endapan lumpur setinggi pintu rumah.

Dampak bencana anomali Hidrometereologi itu bergerser menjadi isu ekologi. Publik secara nasional marah dan mengutuk pemerintah karena menuding deforestasi (kerusakan hutan) di kawasan DAS Garoga Batang Toru dan sekitarnya akibat masifnya izin pembukaan lahan hutan konservasi untuk kawasan perkebunan sawit dan industri pertambangan.

PT AR yang ikut menjadi “tertuduh”,  merasa  perlu membuat pernyataan resmi yang dipublikasi di https://www.facebook.com/share/p/1Go1Y7E6bC/, sejenis komunikasi krisis di saat mayarakat masih “terluka”

Komunikasi Prematur

Komunikasi krisis memang diperlukan. Tapi jangan lupa, bencana alam ini,  bukan peristiwa krisis biasa. Bukan soal status bencananya, tapi tentang eskalasi kemarahan, kecurigaan dan krisis kepercayaan publik yang meluas terhadap pemerintah dalam pusaran isu kerusakan hutan yang masih panas.

Klarifikasi perusahaan tersebut di media sosial, menurut saya, salah momentum dan terburu-buru. Sebuah standby statement yang menjadi bumerang dan meningkatkan trust collapse. Klarifikasi iti  memantik emosi mayoritas netizen, makin membuat mereka balik menyerang, dan makin menyudutkan PT AR.

Pernyataan bahwa “kami patuh izin”, “kami di lokasi DAS berbeda dengan Sungai Garoga”, “ini murni faktor alam”, tak ada gunanya saat ini.

Mau meminta dukungan pemerintah atau regulator untuk memberikan klarifikasi? Percuma, karena situasi mereka juga sama dengan anda. Alih-alih menjadi duta kebenaran, mereka pun gagap merespon  krisis kepercayaan, terutama pihak kementerian pertambangan, kehutanan dan lingkungan hidup.

Rakyat saat ini butuh empati dan tali asih, bukan narasi klarifikasi. Di fase emosional ini, idealnya fokus dulu secara konsisten menunjukkan sikap simpati, memahami penderitaan korban terdampak dan dukungan bantuan sosial secara powerful, yg tulus tanpa perlu polesan pencitraan.

Daripada sibuk merilis bantuan CSR yang nilainya tak sebanding dengan besarnya profitabilitas dari eksplorasi tambang emas, lebih baik sibuk mengerahkan bantuan alat berat, truk logistik, transportasi air dan lainnya untuk distribusi logistik ke desa-desa terdampak dan terisolasi, bantuan air bersih, bantuan medis, jembatan darurat, pembangunan kembali rumah korban bencana, pendampingan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat terdampak yang hasilnya impacful.

Empati & Resonansi

Empati yang autentik dan tulus akan memiliki resonansi. Getaran kejujurannya akan dirasakan pengungsi. Anda bergerak dalam senyap, tapi pengungsi yang merasakan vibrasi dari ketulusan anda, akan menjadi energi positif. Dan kelak tanpa diminta merekalah yang secara sukarela menjadi “humas” anda. Reputasi bukan tentang apa yang perusahan anda katakan, tapi apa yang dikatakan mereka tentang perusahaan anda.

Daripada anda sibuk merilis pencitraan dan klarifikasi, publik lebih bersimpati jika manajemen anda membuat pernyataan tegas dan berani: “Kami membuka diri terhadap audit independen oleh akademisi, NGO profesional serta regulator kredibel, dan siap menerima apapun hasil investigasi objektif bila diumumkan secara terbuka ke publik.”

Ya, semestinya. Kalau benar, mengapa takut?

Intinya, ambil pelajaran dari peristiwa bencana ekologis dan tragedi kemanusiaan ini. Bukan buru-buru defensif. Di saat seperti ini, yang terpenting bukan berpolemik dalam debat salah-benar, tapi memastikan perusahaan anda hadir terdepan, memulihkan keadaan melebihi ekspektasi. Lakukan komunikasi krisis  pasca audit dan investigasi independen.

Tabik
OM Win

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top